Pada hakikatnya, manusia tidak bisa
lepas dari pendidikan. Karena pendidikan adalah suatu rencana yang tersusun dengan
sistematis untuk meningkatkan atau mengembangkan potensi diri, kecerdasan, dan
akhlak mulia yang dimiliki setiap manusia, supaya bisa mencapai tujuan yang
diharapkannya.
Dalam suatu pendidikan pasti
butuh suatu kecerdasan. Kecerdasan
merupakan hasil interaksi antara himpunan pengetahuan dengan kemampuan khusus
dalam mengolah sejumlah informasi tertentu, dan merupakan salah satu anugerah/pemberian
Tuhan yang spesial kepada manusia yang membedakannya dengan makhluk lain. Untuk
mengembangkannya, kita harus mengetahui kecerdasan yang dimiliki manusia,
seperti IQ, EQ, dan SQ.
IQ (Intelligence Quotient) pada dasarnya merupakan sebuah
ukuran tingkat kecerdasan yang berkaitan dengan usia (Reber, 1989: 368), bukan
kecerdasan itu sendiri. Secara harfiah, Intelligence Quotient berarti
hasil bagi inteligensi. Inteligensi
memiliki arti yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi baru
secara cepat dan efektif (Chalpin, 1972: 244). Dengan demikian, inteligensi
dapat disinonimkan dengan kecerdasan. Yang dimaksud kecerdasan disini yaitu kemampuan
untuk menalar, perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan soal, belajar dan
penggunaan bahasa. IQ mulai di perkenalkan oleh Alferd Biner pada tahun 1905
yang menyusun tes kecerdasan terstandar untuk pertama kalinnya. Menurut
penelitian, IQ bisa berubah-ubah sesuai dengan keaadan batin dan jasmaninya,
dan IQ bisa meningkat dari proses belajarnya. Dalam pendidikan, IQ memiliki
peranan sebagai pengolah kemampuan berfikir siswa dalam memecahkan soal-soal
sulit, contohnya bisa mengisi soal Matematika, Kimia, Fisika dan lain
sebagainya.
EQ (Emotional Quotient) merupakan kemampuan emosional yang bisa
menjadi pengendali diri, menyemangati diri, mampu untuk memotivasi diri sendiri
dan bertahan dari frustasi, mampu berkreatif, mampu mengabil resiko, serta bisa
memanfaatkan waktu luang, dan bisa mengatur suasana hati dan menjaga diri dari
emosi. EQ berasal dari fungsi otak lymbicsystem dan pertama kali di
perkenalkan oleh Daniel Walman pada tahun 1995. EQ sangat berperan dalam
pendidikan karena dengan adanya kontrol emosi yang dapat membuat suasana
belajar menjadi asyik dan nyaman serta tidak membosankan, dan dapat dipahami
oleh para pelajar. Contoh dalam pendidikan, EQ biasanya diterapkan dalam bentuk
kegiatan yang mengasah kemampuan kreativitas seperti kesenian dan dalam
kewirausahaan.
SQ (Spiritual Quotient) yaitu kecerdasan jiwa yang membantu
seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan
kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif. Kecerdasan spiritual ini
contohnya mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, mampu menghadapi penderitaan, memiliki tingkat
kesadaran yang tinggi, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari suatu
kegagalan, mandiri, serta bisa bersikap sesuai dengan aturan yang ada dalam
agama dan norma-norma yang berlaku. Contoh kegiatan di sekolah yang berhubungan
dengan SQ yaitu beribadah berjamaah di mesjid, memperingati hari besar Islam, dan
kegiatan motivasi belajar. Peranan SQ dalam pendidikan sangat penting, yaitu menjadikan
pelajar mengenal agamanya, dan bisa bersikap dewasa, serta bisa menjadi manusia
yang seutuhnya.
Kesimpulannya, ketiga kecerdasan itu sangat
berkaitan dan berhubugan. Jika kita hanya cerdas dalam IQ-nya saja, tidak
pandai dalam mengendalikan emosi dan tidak memahami agama, kita akan tersesat,
misalnya seperti para Koruptor yang mengambil dan merampas hak-hak orang banyak.
Kita harus bisa menyeimbangkan kecerdasan-kecerdasan yang kita mikili supaya
kita bisa menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri, agama, dan negara.
Sumber :
Syah,
Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada