Kamis, 05 Desember 2013

Penerapan IQ, EQ, SQ, dalam pendidikan



                Pada hakikatnya, manusia tidak bisa lepas dari pendidikan. Karena pendidikan adalah suatu rencana yang tersusun dengan sistematis untuk meningkatkan atau mengembangkan potensi diri, kecerdasan, dan akhlak mulia yang dimiliki setiap manusia, supaya bisa mencapai tujuan yang diharapkannya.
                Dalam suatu pendidikan pasti butuh suatu  kecerdasan. Kecerdasan merupakan hasil interaksi antara himpunan pengetahuan dengan kemampuan khusus dalam mengolah sejumlah informasi tertentu, dan merupakan salah satu anugerah/pemberian Tuhan yang spesial kepada manusia yang membedakannya dengan makhluk lain. Untuk mengembangkannya, kita harus mengetahui kecerdasan yang dimiliki manusia, seperti IQ, EQ, dan SQ.
IQ (Intelligence Quotient) pada dasarnya merupakan sebuah ukuran tingkat kecerdasan yang berkaitan dengan usia (Reber, 1989: 368), bukan kecerdasan itu sendiri. Secara harfiah, Intelligence Quotient berarti hasil bagi inteligensi. Inteligensi  memiliki arti yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi baru secara cepat dan efektif (Chalpin, 1972: 244). Dengan demikian, inteligensi dapat disinonimkan dengan kecerdasan. Yang dimaksud kecerdasan disini yaitu kemampuan untuk menalar, perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan soal, belajar dan penggunaan bahasa. IQ mulai di perkenalkan oleh Alferd Biner pada tahun 1905 yang menyusun tes kecerdasan terstandar untuk pertama kalinnya. Menurut penelitian, IQ bisa berubah-ubah sesuai dengan keaadan batin dan jasmaninya, dan IQ bisa meningkat dari proses belajarnya. Dalam pendidikan, IQ memiliki peranan sebagai pengolah kemampuan berfikir siswa dalam memecahkan soal-soal sulit, contohnya bisa mengisi soal Matematika, Kimia, Fisika dan lain sebagainya.
EQ (Emotional Quotient) merupakan kemampuan emosional yang bisa menjadi pengendali diri, menyemangati diri, mampu untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan dari frustasi, mampu berkreatif, mampu mengabil resiko, serta bisa memanfaatkan waktu luang, dan bisa mengatur suasana hati dan menjaga diri dari emosi. EQ berasal dari fungsi otak lymbicsystem dan pertama kali di perkenalkan oleh Daniel Walman pada tahun 1995. EQ sangat berperan dalam pendidikan karena dengan adanya kontrol emosi yang dapat membuat suasana belajar menjadi asyik dan nyaman serta tidak membosankan, dan dapat dipahami oleh para pelajar. Contoh dalam pendidikan, EQ biasanya diterapkan dalam bentuk kegiatan yang mengasah kemampuan kreativitas seperti kesenian dan dalam kewirausahaan.
SQ (Spiritual Quotient) yaitu kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif. Kecerdasan spiritual ini contohnya mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan,  mampu menghadapi penderitaan, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari suatu kegagalan, mandiri, serta bisa bersikap sesuai dengan aturan yang ada dalam agama dan norma-norma yang berlaku. Contoh kegiatan di sekolah yang berhubungan dengan SQ yaitu beribadah berjamaah di mesjid, memperingati hari besar Islam, dan kegiatan motivasi belajar. Peranan SQ dalam pendidikan sangat penting, yaitu menjadikan pelajar mengenal agamanya, dan bisa bersikap dewasa, serta bisa menjadi manusia yang seutuhnya.
Kesimpulannya, ketiga kecerdasan itu sangat berkaitan dan berhubugan. Jika kita hanya cerdas dalam IQ-nya saja, tidak pandai dalam mengendalikan emosi dan tidak memahami agama, kita akan tersesat, misalnya seperti para Koruptor  yang mengambil dan merampas hak-hak orang banyak. Kita harus bisa menyeimbangkan kecerdasan-kecerdasan yang kita mikili supaya kita bisa menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri, agama, dan negara.

Sumber :
Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada